Selasa, 26 Februari 2019

PEMBALAKAN LIAR DI HUTAN KEPULAUAN ARU, MALUKU, PEMUDA ARU BERSIKAP

PRESS RILIS:
KOALISI PEMUDA ADAT JARGARIA (KPAJ) bersikap:
"KEMBALIKAN HUTAN ARU DAN TANGKAP MAFIA KAYU"

Pertama-tama kami KOALISI PEMUDA ADAT JARGARIA (KPAJ) yang berkedudukan di Dobo, ibukota kabupaten Kepulauan Aru menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ditjen Gakkum KLHK yang telah membantu masyarakat Aru membongkar kasus ilegal logging yang terjadi selama ini di hutan Aru dengan ditangkapnya 38 kontainer kayu ilegal dari hutan kami.
Selanjutnya, mencermati siaran pers oleh Ditjen Gakkum KLHK tertanggal 25 Februari 2019 tentang penangkapan 38 kontainer kayu ilegal yang berasal dari daerah kami Kepulauan Aru, Maluku yang diekspose di berbagai media, maka setelah kami melakukan diskusi dan mengkajinya dengan berbagai elemen di Kota Dobo, kami meresponinya begini:
Kepulauan Aru (Jargaria) adalah daerah kepulauan yang tersusun atas ratusan pulau-pulau kecil yang tersebar rendah di atas permukaan air laut dengan memiliki berbagai potensi sumber daya alam, salah satunya sumber daya kehutanan. Pada sektor kehutanan terdapat potensi alam seperti kayu, satwa endemik seperti kanguru, kakatua, cenderawasih, rusa, babi hutan, dan lain sebagainya. Potensi hutan ini seperti kayu misalnya, telah dilindungi oleh masyarakat Aru secara turun temurun hingga saat ini. Jika hendak digunakan, tentu digunakan secukupnya saja. Sebab masyarakat Aru sadar bahwa hutan adalah rumah tempat menyimpan cadangan makanan dan air untuk kelangsungan hidup sehingga proses pelestarian hutan telah menjadi hal prinsip yang seringkali dilakukan oleh masyarakat Aru. Dengan kata lain, masyarakat Aru sudah mengenal apa yang disebut sebagai "Simbiosis Mutualisme". Sehingga merusak hutan adalah tindakan yang paling dibenci oleh masyarakat Aru.
Di lain pihak, potret Kepulauan Aru sebagai daerah pulau-pulau kecil memperlihatkan kandungan air tanah tentu relatif sedikit ketimbang pulau-pulau besar sehingga pilihannya hanya satu, yaitu menjaga dan melindungi hutan di pulau-pulau kecil di Aru sebagai penyangga air tanah dan juga penyangga oksigen. Maka jika merusak hutan dengan praktik pembalakan liar, maka konsekwensinya adalah debit air tanah pasti berkurang di masa depan dan berdampak pada ketidakseimbangan dan ketidaklanjutan ekosistem. Oleh sebab itu, praktik ilegal logging terutama di hutan pulau-pulau kecil seperti di Kepulauan Aru tentu sangat dilarang karena ini salah satu akibatnya disambing akibat-akibat lain yang menyebabkan tindakan ini sebagai kejahatan pidana yang dapat dihukum tegas sesuai aturan hukum positif yang berlaku.
Hemat kami, penangkapan 38 kontainer kayu ilegal oleh Ditjen Gakkum KLHK di Surabaya pada tanggal 25 Februari 2019 lalu membenarkan anggapan kami bahwa kejahatan ilegal logging itu selama ini marak terjadi di Aru. Hal ini disebabkan karena kontrol pemerintah yang tidak ketat (seperti tidak adanya Peraturan Daerah tentang Perlindungan dan Pengelolaan Hutan di Aru atau Peraturan Daerah lainnya yang terkait dengan kehutanan ataupun Peraturan Bupati) untuk menerjemahkan UU kehutanan atau memproteksi hutan di Aru, ditambah lagi dengan masyarakat yang jarang diedukasi oleh pemerintah untuk mengawasi hutan Aru menyebabkan kejahatan ilegal logging ini terus terjadi. Sebab 38 kontainer itu bukan jumlah kayu yang sedikit, yang jika diuangkan tentu keuntungannya sudah mencapai milyaran rupiah dan masyarakat Aru yang dirugikan sebab daripadanya, berapa luas hutan yang sudah gundul?
Di dalam siaran pers Ditjen Gakkum KLHK itu pula disebutkan beberapa perusahaan yang terindikasi terlibat di dalam praktik sindikat kejahatan ilegal logging ini, seperti pada tanggal 22 Februari 2019 terdapat 14 kontainer yang berhasil ditahan Ditjen Gakkum KLHK di tempat penampungan CV. CHM yang berlokasi di Jl. Mayjen Sungkono Gresik, 13 kontainer di area PT. KAYT di Jl. Margomulyo Indah, Surabaya, dan 11 kontainer di area PT. AGJU di Desa Winong Pasuruan. Dan 14 kontainer kayu-kayu itu menurut Ditjen Gakkum KLHK diangkut pada tanggal 8 Februari 2019 dan diberangkatkan dengan KM. Muara Mas milik PT. TEMPURA MAS LINE/TEMAS LINE (salah satu perusahaan pelayaran) pada tanggal 10 Februari 2019 dari pelabuhan Dobo. Dengan demikian fakta ini memperlihatkan bahwa ini kejahatan lintas sektoral dan lintas struktural yang dilakukan secara masif, terstruktur dan terencana.
Maka berdasarkan pandangan singkat di atas, kami Koalisi Pemuda Adat Jargaria (KPAJ) bersikap:
1. Kami mengutuk keras para pelaku kejahatan ilegal logging yang merusak hutan kami di Kepulauan Aru hanya untuk keutungan kapitalnya dan menyisahkan kerusakan hutan dan kemiskinan masal di Kepulauan Aru.
2. Kami mendesak pihak Ditjen Gakkum KLHK untuk secepatnya memproses dan menghukum seberat-beratnya para pelaku yang telah ditangkap terutama pihak perusahaan yang terindikasi kuat terlibat didalamnya seperti: CV.CHM, PT.KAYT, PT.AGJU dan PT. TEMPURA MAS LINE/TEMAS LINE agar memberi efek jera bagi mafia kayu lainnya.
3. Kami mendesak pihak Ditjen Gakkum KLHK untuk sedapat mungkin setelah proses hukum dan pemberian sanksi terhadap para pelaku kejahatan ilegal logging dari hutan Aru dilakukan untuk selanjutnya dapat berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Aru dan masyarakat pemilik petuanan adat yang kayunya diambil itu untuk dapat dikembalikan agar kayu itu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat atau dikelola seperti apa oleh Pemda Aru. Sebab sekali lagi 38 kontainer itu bukan kayu yang sedikit yang daripadanya telah mengakibatkan berbagai macam kerugian di masyarakat Aru.
4. Kami mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Aru bersama DPRD setempat mengupayakan untuk diproduksikannya Peraturan Daerah, Peraturan Bupati sampai Petunjuk Teknis tentang Perlindungan dan Pengelolaan Hutan di Kepulauan Aru bahkan mendesak Desa-Desa (Fanua-Fanua) adat di seluruh Aru untuk membuat Peraturan Desa tentang Petuanan Adat yang meliputi laut dan hutan yang semua peraturan itu secara hierarkhi dapat dijadikan sebagai legal standing perlindungan hutan di Kepulauan Aru.
5. Kami mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Aru untuk mereview kembali izin-izin atau rekomendasi-rekomendasi yang telah dikeluarkan kepada perusahaan-perusahaan yang melakukan kegiatan pemanfaatan hutan, bahkan termasuk juga perusahaan yang bergerak di sektor lain, misalnya perikanan, sebab ada informasi juga bahwa ada perusahaan perikanan yang izinnya tentang pengambilan ikan tetapi aktivitasnya tidak saja ambil ikan tetapi kayu juga.
6. Kami mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Aru untuk membentuk SATUAN TUGAS (Satgas) Perlindungan Hutan di bawah koordinasi Dinas Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aru untuk mendata, mengontrol, mengevaluasi dan memantau aktivitas pemanfaatan hutan baik oleh pihak swasta maupun masyarakat sebagai langkah proteksi dini terhadap hutan di Aru.
7. Kami mendesak Pemerintah Provinsi Maluku sebagai kepanjangan tangan Pemerintah Pusat untuk secara tegas melarang bahkan memberi sanksi kepada perusahaan-perusahaan yang melakukan kegiatan pemanfaatan hutan yang secara yuridis, izinnya sudah mati atau sudah harus diperpanjang, apalagi yang ilegal.
Demikiam sikap ini kami KOALISI PEMUDA ADAT JARGARIA (KPAJ) sampaikan dalam bentuk PRESS RILIS kepada sahabat-sahabat pers untuk dapat dipublikasikan agar semua pihak yang disebutkan di dalamnya dapat membaca ataupun mendengarkannya dan melakukannya. Sebab kami yakin hakul yakin bahwa sikap ini adalah jalan untuk MENGEMBALIKAN HUTAN KAMI.
Terima kasih sahabat-sahabat pers yang sudah boleh membantu menyalurkan aspirasi kami ini. Semoga pohon-pohon di hutan suci Aru mendoakanmu sekalian.
Kami berharap sahabat-sahabat semua dapat membagikan sikap kami ini sebagai bentuk kegelisahan bersama.

Dobo, 27 Februari 2019
Tertanda
Callin Leppuy
(Koordinator)

Jumat, 22 Februari 2019

Wouw, Kucingku. Episode (4) ; Canda manis dan lucu anak-anak Kucing

Wouw, Kucingku (2) ; Episode Canda Ria Anak-anak Kucing

KUCINGKU (1), Episode ; Canda manis dan lucu anak-anak Kucing

Pemburu Jadi Ancaman Utama Kepunahan Orang Utan di Kalimantan

Orang Utan. (Foto: Instagram @heytuta)
Populasi orang utan di Kalimantan terancam punah. Berkurangnya jumlah orang utan di Kalimantan lebih banyak disebabkan oleh aktivitas berburu manusia ketimbang akibat kehilangan habitatnya.
Angka populasi orang utan di sana memang terus berkurang sejak 1999 sampai 2015 lalu, totalnya mencapai 148.500 orang utan. Menurunnya populasi orang utan ini banyak terjadi di hutan-hutan tempat tinggal orang utan, yang disebutkan kebanyakan orang utan itu menghilang tanpa bekas.
Hal ini dilaporkan oleh ahli primata Maria Voigt dari Max Planck Institute di bidang Antropologi Evolusioner, Jerman, pada 15 Februari dalam jurnal Current Biology.
Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa ratusan ribu orang utan itu menghilang karena diburu oleh manusia.
"Pembunuhan orang utan sepertinya telah menjadi ancaman nomor satu bagi kehidupan orang utan," kata ahli biologi dan ekologi Serge Wich dari Liverpool John Moores University, yang juga bagian dari tim tersebut, dilansir ScienceNow.
Orang utan diburu untuk makanan atau mencegah mereka mencuri dari kebun atau sawah, menurut peneliti. Orang-orang juga disebut membunuh orang utan dewasa untuk mencuri bayinya yang kemudian dijual dalam perdagangan hewan ilegal internasional.
Orang Utan Bersama Anaknya. (Foto: Instagram @tanjungputing)
Kini, hanya ada sekitar 70 ribu hingga 100 ribu orang utan yang tinggal di Kalimantan. Meskipun angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan perkiraan populasi sebelumnya, orang utan hanya memiliki habitat di Kalimantan dan Sumatera. Dan di kedua tempat ini jumlahnya sudah sangat langka.Belum lagi, adanya penggundulan hutan Kalimantan atau dikonversikan ke lahan pertanian yang juga ikut mengancam keberadaan orang utan saat ini."Kami tidak memperkirakan kerugiannya begitu besar di hutan ini, jadi studi ini mengkonfirmasi bahwa pemburuan (orang utan) adalah masalah besar. Ketika binatang-binatang ini berkelahi dengan warga di tepi perkebunan, mereka selalu kalah. Warga akan membunuh mereka," kata Serge.
Data yang ditemukan lewat satelit menunjukkan bahwa populasi orang utan di kawasan hutan Borneo telah menurun sekitar 30 persen sejak tahun 1972 hingga 2010. Dalam 25 tahun ke depan, Voigt dan timnya memprediksi kalau penggusuran habitat orang utan akan mengancam hilangnya kehidupan 45 ribu orang utan."(Jika) angka berburu bertambah, ini akan menjadi kombinasi yang mematikan (dari pemburuan dan penggundulan hutan),"ucap Serge.Meski begitu, sejumlah orang utan yang tinggal di zona dilindungi di Kalimantan kemungkinan besar akan mampu menghindari kepunahan. Ini dikarenakan mereka dilindungi dengan baik dan terus diperhatikan oleh para petugas konservasi.

Sumber Berita : https://kumparan.com/@kumparansains/pemburu-jadi-ancaman-utama-kepunahan-orang-utan-di-kalimantan?ref=rel

Senin, 05 November 2018

Pemda diminta hentikan alihfungsi hutan habibat satwa

Pemda diminta hentikan alihfungsi hutan habibat satwa

Burung Maleo yang masuk kategori satwa dilindngi karena terancam punah (antarafoto)
Ternate, 5/11 (Antaranews Maluku) - Pemerintah daerah (pemda) di Maluku Utara (Malut) diminta untuk menghentikan pengalihfungsian kawasan hutan habibat satwa, terutama satwa yang dilindungi menjadi areal pertambangan dan perkebunan besar.

"Selama ini sudah ada ratusan ribu hektare kawasan hutan di Malut, yang sebagian besar di antaranya merupakan habibat satwa dilindungi dialihfungsikan menjadi areal pertambangan dan perkebunan besar," kata salah seorang pemerhati lingkungan di Malut, Jafar di Ternate, Senin.

Kalau pengalihfungsian kawasan hutan habibat satwa dilindungi itu tidak dihentikan, dikhawatirkan berbagai satwa yang dilindungi di Malut, seperti burung bidadari dan paruh bengkok akan semakin terancam kelestariannya.

Menurut dia, pengalihfungsian kawasan habibat satwa dilindungi menjadi areal pertambangan atau perkebunan besar akan mengubah 100 persen fungsi ekologisnya, sehingga semua satwa yang ada dikawasan itu tidak bisa bertahan hidup.

Di beberapa wilayah di Malut yang dulunya banyak terlihat burung bidadari dan burung paruh bengkok seperti kakatua dan nuri kini tidak ada lagi, setelah kawasan hutan di wilayah setempat dialihfungsikan menjadi areal pertambangan dan perkebunan besar.

Keberadaan kawasan hutan konservasi di sejumlah wilayah di Malut, kata Jafar, tidak dapat sepenuhnya diandalkan untuk mempertahankan kelesetarian berbagai satwa dilindungi di Malut, karena selain luasannya terbatas juga mulai mengalami kerusakan akibat pembalakan liar.

Hal lainnya yang harus menjadi perhatian pemda dan pihak terkait lainnya di Malut untuk menjaga kelestarian satwa yang dilindungi adalah masih maraknya penangkapan satwa dilindungi itu, khususnya jenis burung paruh bengkok yang dilakukan oknum masyarakat.

"Perlu ada pengawasan dan sanksi tegas terhadap mereka yang terbukti menangkap atau memperdagangkan satwa dilindungi tersebut, selain itu juga harus diintensifkan penyadaran kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian satwa dilindungi," katanya.

Pewarta : La Ode Aminuddin
Editor: John Nikita
COPYRIGHT © ANTARA 2018
Sumber ; https://ambon.antaranews.com/berita/47949/pemda-diminta-hentikan-alihfungsi-hutan-habibat-satwa

Jumat, 03 Agustus 2018

Kebakaran Savana Pulau Gili Lawa Taman Nasional Komodo




Kebakaran Taman Nasional Komodo, Rabu (1/8/2018). ( sumber ; Liputan6.com/Ola Keda)


Kebakaran Taman Nasional Komodo di pulau Gili Lawa yang didominasi rumput savana terjadi sejak Rabu (1/8/2018) sekitar pukul 19.00. Di duga penyebabnya adalah kelalaian manusia, yaitu adanya unsur kesengajaan dari wisatawan pengunjung pulau Gili Lawa yang diangkut kapal tour wisata.


Pihak kepolisian Resort Manggarai Barat sedang melakukan pemeriksaan terhadap saksi yang mengetahui kebakaran dan yang diduga pelaku yang menyebabkan kebakaran.

"Saat ini Polres Manggarai Barat juga berkoordinasi dengan pihak Balai Taman Nasional Komodo untuk melakukan pendataan kapal-kapal dan tour wisata yang pada saat kejadian kebakaran berada di Gili Lawa," kata Kabid Humas Polda NTT Kombes Jules Abraham Abast, sebagaimana yang dilaporkan Liputan6.com, Jumat (3/8/2018).

Kemungkinan untuk satu tahun ke depan padang savana di Gili Lawa tidak bisa dinikmati keindahannya, karena hampir seluruhnya terbakar. Gili Lawa tidak terdapat habitat hewan purba Komodo, hanya merupakan habitat rusa. Tetapi Gili Lawa adalah tempat eksotis yang biasanya didatangi untuk menyaksikan keindahan matahari terbenam, dan berfoto serta menyaksikan dari atas pulau-pulau di Taman Nasional Komodo.

Lokasi kebakaran, menurut Menurut Kepala Balai Taman Nasional Komodo Budi Kurniawan memang kerap dijadikan para wisatawan untuk melihat matahari terbit dan terbenam sambil berfoto ria. Sementara penyebab kebakaran diduga karena puntung rokok yang dibuang secara sengaja oleh pengunjung.

"Diduga kebakaran kawasan TNK itu karena puntung rokok yang dibuang secara sengaja oleh pengunjung yang tak bertanggung jawab," kata Budi, Jumat (3/8/2018), dilansir kantor berita Antara.



Sumber : Antara, Liputan6.com, dan news.detik.com